Jumat, 18 Mei 2012

Notes Si 43192


Rahasia Pandangan
Ketika kita melihat suatu keindahan dengan sekilas pandang, maka yang kita dapatkan adalah keindahan semu. Namun ketika melayangkan pandang sekali lagi, maka kita akan memperoleh pembenaran dari keindahan yang kita lihat sebelumnya.
Begitu juga saat kita mengenal seseorang, ketika keindahan fisik menjadi patokan lirikan mata, pandangan itu pula yang menghadirkan kerinduan untuk bertemu lagi. Tapi apa yang kebanyakan terjadi, ketika pertemuan itu kembali berulang, kita dapat melihat secara lebih jelas detail dan keseluruhannya, kekurangan selalu muncul untuk mengurungkan pujian. Namun ketika pandangan ini tidak begitu berarti karena keindahan yang sebelumnya tak menarik hati, justru karena pembenaran pandangan kali kedua kelihatan lebih berbeda. Itulah rahasia pandangan, mengenal lebih baik daripada ketika harus memutuskan penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan sekilas pandang, berdasarkan gerak tubuh, namun pembicaraan yang terurai yang terciptalah sebagai penentu nilai yang sebenarnya.
Tulisan ini ditulis ketika adanya pembicaraan santai diruangan customer service kantor Pos Sukabumi. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk merendahkan suatu kaum tertentu, tapi sebagai pengalaman hidup untuk mencari suatu pembelajaran. Dan cerita ini bukanlah gambaran masyarakat secara menyeluruh, melainkan beberapa oknum saja.
Disiang itu,tatkala kami duduk-duduk santai di bangku antrian, tiga orang wanita muda muncul menuju ruangan tempat kami mengobrol mengisi waktu. Pertama terlintas di kepala adalah mereka pelanggan yang komplen karena kurang baiknya pelayanan yang diberikan perusahaan. Namun ketika di dengar lebih jauh, salah seorang dari mereka, yang berkostum baju kaos merah dengan celana jeans trendi seperti kebanyakan gaya busana yang dipakai oleh anak muda zaman sekarang bermaksud mengurus legalisasi surat menyurat dan dokumen perceraian. Tak pelak yang terlintas dibenakku, wanita muda yang lumayan cantik, harus menyandang status janda, apa kata dunia????
Di kampungku, kota kecil yang bernama Mukomuko di bagian paling utara propinsi Bengkulu, status janda sangat lah tidak baik untuk predikat seorang wanita, apalagi seorang wanita muda. Status janda menjadi sangat terhormat ketika maut yang menjadi pemisah, itulah ujian cinta yang sebenarnya. Namun status janda yang tercipta dari sebuah perceraian, apalagi terjadi berkali-kali adalah sebuah cemo’ohan yang mengundang  aib  melalui pergunjingan bahwa  pelaku bukanlah orang baik-baik, yang tidak mampu menjaga kehormatan keluarga. Sekali lagi wanita yang menjadi ujung tombak penilaian, meskipun  tidak selalu demikian, karena pria juga mempunyai peranan kunci terhadap terjadinya sebuah perceraian. Itulah pola nilai masyarakat timur, realita patriarki masih sangat kental menjadi anutan.
Setelah ketiga wanita tadi beranjak dari tempat duduk di depan meja customer service, kami lalu menghampiri ibu yang bertugas sebagai customer service di kantor itu. ibu itu pun akhirnya bercerita panjang lebar tentang kebiasaan yang terjadi di daerah setempat. “kawin cerai mah biasa disini” ungkap ibu itu dengan logat sundanya. Kami pun semakin tertarik untuk menyimak lebih jauh. “masih muda-muda lagi, kebanyakan mereka cerai karena masalah uang”, lanjut ibu itu. “dulu ada yang bercerai gara-gara tidak dibelikan mobil oleh suaminya”. Aku pun tersentak mendengar pengakuan ibu yang terakhir ini. Masa cuma gara-gara sebuah mobil, martabat sebuah rumah tangga harus dikorbankan. Penasaran kami pun semakin muncul. Dengan mimik yang serius, aku bersama dua rekan yang sama-sama sedang mengikuti OJT (on the job training) dikantor Pos Sukabumi mulai mendengar dengan seksama cerita pengalaman dan pengamatan ibu itu tentang polah tingkah dan kebiasaan sebagian masyarakat setempat.
Rata-rata masyarakat setempat, khususnya kaum hawa memiliki kegemaran bersolek. Jadi tidak heran ketika menjumpai perempuan-perempuan cantik yang semakin cantik dengan polesan riasan dan gincu yang menempel di wajah dan bibir mereka. Wajah yang kelihatan tidak menarik sebelumnya pun menjadi lebih berbeda dan terlihat mencolok dari biasanya. Itulah ciri khas masyarakat disini, penampilan adalah modal awal untuk menarik dan menangkap pandangan lawan jenis. Begitu sangat menggoda nya mereka…
Namun pada sebagian orang, kebiasaan seperti ini telah merobah pola pikir mereka menjadi lebih Heidonis. Mereka menggunakan modal wajah pemikat nan rupawan untuk mendapatkan pria-pria kaya yang bisa mensuplai pundi-pundi uang pemenuh kebutuhan primer mereka. Segala sesuatunya tergantung dari seberapa tingginya pangkat seseorang, seberapa tebalnya dompet yang terselip di kantong celana, dan seberapa banyak nya harta yang bisa dikalkulasi untuk hari-hari kedepan. Inilah hidup yang meletakkan dasar harta benda sebagai pemuas nafsu dunia, bukan karena putihnya cinta yang telah memalingkan wajah untuk sebuah penghambaan karena indahnya sebuah akhlak yang mulia.
Yang lebih mengejutkan lagi, ada juga sebagian orang yang rela dinikahi secara kontrak dalam periode tertentu dengan orang-orang luar. Pada akhirnya ketika masa tinggal orang yang bersangkutan habis, maka habis pula cinta diantara mereka. Sebenarnya ini bukan cinta, melainkan padamnya gairah untuk menyanjung karena telah lenyapnya sumber uang yang pergi begitu saja. Lalu, bagaimana dengan nasib anak-anak mereka???
Ibu itu kembali melanjutkan ceritanya, anak-anak yang terlahir itu biasanya dititipkan dengan nenek/kakeknya ataupun keluarga lainnya. Alhasil, anak-anak ini kehilangan kasih sayang, dan yang lebih celaka, mereka tidak mengenal siapa orang tua mereka sebenarnya. Kalaupun mereka tahu orang tua mereka, mereka tidak pernah merasakan hangat nya belaian seorang ibu ketika menidurkan bayinya di pangkuan, kekarnya tangan seoarng ayah ketika sedang menggendong buah hati nya. Itulah realita yang ada!
Lalu kemana para orang tua itu setelah melahirkan mereka? Sebagian  ada yang mencoba peruntungan menjadi TKI di beberapa Negara jiran, sebagian ada yang menikah lagi tanpa mau disibukkan dengan membawa anak mereka ke rumah baru nya. Kewajiban sebagai orang tua hanya dijalankan sebatas mengirimkan uang bulanan untuk biaya hidup anaknya. Sungguh miris rasanya memiliki orang tua seperti ini.
Itulah pengkhianat cinta, orang yang mengatakan cinta ketika segepok uang kertas terlihat mempesona, orang mengatakan sayang ketika melihat betapa kilaunya emas dan intan berlian sebagai perhiasan, orang yang mengatakan kasih tatkala terpaut dengan wajah yang rupawan. Percayalah kawan, sebuah firman Tuhan ini pangkulah sebagai kebenaran dan jalan pasti dalam mencapai pelabuhan kebahagian, “Sesungguhnya wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, begitu juga sebaliknya”.
Diakhir cerita, ibu itu berkata,” kalau ada para pemangku jabatan yang bertugas di sini tidak tergoda dengan rayuan dan godaan dari dara-dara jelita setempat, itulah makhluk yang sebaik-sebaiknya dengan iman kuat di dalam dada”.
Sekali lagi, janganlah melihat keindahan dari sebagian pandangan, lihatlah dua kali untuk pembenaran. Jangan lah mengagungkan kasih sayang karena harta yang bergelimang, kenalilah hati  dan bicaralah dengan kalbu yang terdalam.
Percakapan ini pun terhenti ketika jam istirahat siang sudah memanggil perut kami yang kelaparan. Semoga ini dapat memberikan sedikit pengertian bagi teman-teman yang dalam tahap penjajakan untuk memulai sebuah komitmen berkelanjutan. Semoga sebuah pilihan akan menjadi pilihan yang tak pernah lekang.
Amin!!!
@kost2an OJT POK, Sukabumi 2012

Rahasia Pandangan
Ketika kita melihat suatu keindahan dengan sekilas pandang, maka yang kita dapatkan adalah keindahan semu. Namun ketika melayangkan pandang sekali lagi, maka kita akan memperoleh pembenaran dari keindahan yang kita lihat sebelumnya.
Begitu juga saat kita mengenal seseorang, ketika keindahan fisik menjadi patokan lirikan mata, pandangan itu pula yang menghadirkan kerinduan untuk bertemu lagi. Tapi apa yang kebanyakan terjadi, ketika pertemuan itu kembali berulang, kita dapat melihat secara lebih jelas detail dan keseluruhannya, kekurangan selalu muncul untuk mengurungkan pujian. Namun ketika pandangan ini tidak begitu berarti karena keindahan yang sebelumnya tak menarik hati, justru karena pembenaran pandangan kali kedua kelihatan lebih berbeda. Itulah rahasia pandangan, mengenal lebih baik daripada ketika harus memutuskan penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan sekilas pandang, berdasarkan gerak tubuh, namun pembicaraan yang terurai yang terciptalah sebagai penentu nilai yang sebenarnya.
Tulisan ini ditulis ketika adanya pembicaraan santai diruangan customer service kantor Pos Sukabumi. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk merendahkan suatu kaum tertentu, tapi sebagai pengalaman hidup untuk mencari suatu pembelajaran. Dan cerita ini bukanlah gambaran masyarakat secara menyeluruh, melainkan beberapa oknum saja.
Disiang itu,tatkala kami duduk-duduk santai di bangku antrian, tiga orang wanita muda muncul menuju ruangan tempat kami mengobrol mengisi waktu. Pertama terlintas di kepala adalah mereka pelanggan yang komplen karena kurang baiknya pelayanan yang diberikan perusahaan. Namun ketika di dengar lebih jauh, salah seorang dari mereka, yang berkostum baju kaos merah dengan celana jeans trendi seperti kebanyakan gaya busana yang dipakai oleh anak muda zaman sekarang bermaksud mengurus legalisasi surat menyurat dan dokumen perceraian. Tak pelak yang terlintas dibenakku, wanita muda yang lumayan cantik, harus menyandang status janda, apa kata dunia????
Di kampungku, kota kecil yang bernama Mukomuko di bagian paling utara propinsi Bengkulu, status janda sangat lah tidak baik untuk predikat seorang wanita, apalagi seorang wanita muda. Status janda menjadi sangat terhormat ketika maut yang menjadi pemisah, itulah ujian cinta yang sebenarnya. Namun status janda yang tercipta dari sebuah perceraian, apalagi terjadi berkali-kali adalah sebuah cemo’ohan yang mengundang  aib  melalui pergunjingan bahwa  pelaku bukanlah orang baik-baik, yang tidak mampu menjaga kehormatan keluarga. Sekali lagi wanita yang menjadi ujung tombak penilaian, meskipun  tidak selalu demikian, karena pria juga mempunyai peranan kunci terhadap terjadinya sebuah perceraian. Itulah pola nilai masyarakat timur, realita patriarki masih sangat kental menjadi anutan.
Setelah ketiga wanita tadi beranjak dari tempat duduk di depan meja customer service, kami lalu menghampiri ibu yang bertugas sebagai customer service di kantor itu. ibu itu pun akhirnya bercerita panjang lebar tentang kebiasaan yang terjadi di daerah setempat. “kawin cerai mah biasa disini” ungkap ibu itu dengan logat sundanya. Kami pun semakin tertarik untuk menyimak lebih jauh. “masih muda-muda lagi, kebanyakan mereka cerai karena masalah uang”, lanjut ibu itu. “dulu ada yang bercerai gara-gara tidak dibelikan mobil oleh suaminya”. Aku pun tersentak mendengar pengakuan ibu yang terakhir ini. Masa cuma gara-gara sebuah mobil, martabat sebuah rumah tangga harus dikorbankan. Penasaran kami pun semakin muncul. Dengan mimik yang serius, aku bersama dua rekan yang sama-sama sedang mengikuti OJT (on the job training) dikantor Pos Sukabumi mulai mendengar dengan seksama cerita pengalaman dan pengamatan ibu itu tentang polah tingkah dan kebiasaan sebagian masyarakat setempat.
Rata-rata masyarakat setempat, khususnya kaum hawa memiliki kegemaran bersolek. Jadi tidak heran ketika menjumpai perempuan-perempuan cantik yang semakin cantik dengan polesan riasan dan gincu yang menempel di wajah dan bibir mereka. Wajah yang kelihatan tidak menarik sebelumnya pun menjadi lebih berbeda dan terlihat mencolok dari biasanya. Itulah ciri khas masyarakat disini, penampilan adalah modal awal untuk menarik dan menangkap pandangan lawan jenis. Begitu sangat menggoda nya mereka…
Namun pada sebagian orang, kebiasaan seperti ini telah merobah pola pikir mereka menjadi lebih Heidonis. Mereka menggunakan modal wajah pemikat nan rupawan untuk mendapatkan pria-pria kaya yang bisa mensuplai pundi-pundi uang pemenuh kebutuhan primer mereka. Segala sesuatunya tergantung dari seberapa tingginya pangkat seseorang, seberapa tebalnya dompet yang terselip di kantong celana, dan seberapa banyak nya harta yang bisa dikalkulasi untuk hari-hari kedepan. Inilah hidup yang meletakkan dasar harta benda sebagai pemuas nafsu dunia, bukan karena putihnya cinta yang telah memalingkan wajah untuk sebuah penghambaan karena indahnya sebuah akhlak yang mulia.
Yang lebih mengejutkan lagi, ada juga sebagian orang yang rela dinikahi secara kontrak dalam periode tertentu dengan orang-orang luar. Pada akhirnya ketika masa tinggal orang yang bersangkutan habis, maka habis pula cinta diantara mereka. Sebenarnya ini bukan cinta, melainkan padamnya gairah untuk menyanjung karena telah lenyapnya sumber uang yang pergi begitu saja. Lalu, bagaimana dengan nasib anak-anak mereka???
Ibu itu kembali melanjutkan ceritanya, anak-anak yang terlahir itu biasanya dititipkan dengan nenek/kakeknya ataupun keluarga lainnya. Alhasil, anak-anak ini kehilangan kasih sayang, dan yang lebih celaka, mereka tidak mengenal siapa orang tua mereka sebenarnya. Kalaupun mereka tahu orang tua mereka, mereka tidak pernah merasakan hangat nya belaian seorang ibu ketika menidurkan bayinya di pangkuan, kekarnya tangan seoarng ayah ketika sedang menggendong buah hati nya. Itulah realita yang ada!
Lalu kemana para orang tua itu setelah melahirkan mereka? Sebagian  ada yang mencoba peruntungan menjadi TKI di beberapa Negara jiran, sebagian ada yang menikah lagi tanpa mau disibukkan dengan membawa anak mereka ke rumah baru nya. Kewajiban sebagai orang tua hanya dijalankan sebatas mengirimkan uang bulanan untuk biaya hidup anaknya. Sungguh miris rasanya memiliki orang tua seperti ini.
Itulah pengkhianat cinta, orang yang mengatakan cinta ketika segepok uang kertas terlihat mempesona, orang mengatakan sayang ketika melihat betapa kilaunya emas dan intan berlian sebagai perhiasan, orang yang mengatakan kasih tatkala terpaut dengan wajah yang rupawan. Percayalah kawan, sebuah firman Tuhan ini pangkulah sebagai kebenaran dan jalan pasti dalam mencapai pelabuhan kebahagian, “Sesungguhnya wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, begitu juga sebaliknya”.
Diakhir cerita, ibu itu berkata,” kalau ada para pemangku jabatan yang bertugas di sini tidak tergoda dengan rayuan dan godaan dari dara-dara jelita setempat, itulah makhluk yang sebaik-sebaiknya dengan iman kuat di dalam dada”.
Sekali lagi, janganlah melihat keindahan dari sebagian pandangan, lihatlah dua kali untuk pembenaran. Jangan lah mengagungkan kasih sayang karena harta yang bergelimang, kenalilah hati  dan bicaralah dengan kalbu yang terdalam.
Percakapan ini pun terhenti ketika jam istirahat siang sudah memanggil perut kami yang kelaparan. Semoga ini dapat memberikan sedikit pengertian bagi teman-teman yang dalam tahap penjajakan untuk memulai sebuah komitmen berkelanjutan. Semoga sebuah pilihan akan menjadi pilihan yang tak pernah lekang.
Amin!!!
@kost2an OJT POK, Sukabumi 2012

Rabu, 02 Mei 2012

POK 2012 dalam cerita

www.facebook.com/goenk.andrian
Pembelajaran di kelas, di hari-hari…
Langkah-langkah kaki berirama mulai datang mendekati laman asrama Rafflessia, setelah tiga hari pengumuman kelulusan yang tertera di amplop putih jumat itu. Gurat wajah nan diiringi lenggang tangan berjemari tegar berpandang lurus kedepan berlalu lalang di koridor rafflesia silih berganti. Ini bukanlah suatu perlawanan, bukan….bukan itu, ini adalah sebuah keterbukaan untuk  memulai  suatu pertemuan. Pertemuan yang mengharuskan kami menyapa, berbicara, bersenda gurau dengan tawa kecil menahan tetesan air mata bahagia, pertemuan yang suatu nanti mesti di akhiri,  mesti dihadapi dengan senyum kecut, dengan mata sembab, persetan yang namanya perpisahan. Ini baru permulaan…belum terpikir bagaimana akhirnya, belum sama sekali, biarlah berjalan sebagaimana itu seharusnya terjadi.
Stelan putih hitam bersanding rapih menjadi penanda kami sebagai peserta baru Program Orientasi Kerja (POK) PT Pos Indonesia 2012 di temaram pagi itu. Kamar asrama kami begitu hangat karena dihuni tiga orang baru yang memang berbeda, berbeda asalnya, latar belakang pendidikannya, berbeda pulau dan samudera yang memisahkannya, berbeda selat dan semenanjungnya, membentang sebagai jembatan pengantar kami ke sebuah jagad  baru pembelajaran pertama, kami ingin tahu dan ingin kenal mereka, ingin bercerita. Sungguh cerita yang mengalir sempurna, setiap orang dengan mata berbinar saling berbagi kisah, mulai dengan cerita yang sederhana. Bahasa kaku yang semula dipakai hanya butuh waktu sementara saja untuk mengalurkan sentuhan riak tawa sebagai sandiwara. Setelah tampil rapi dengan melihat refleksi diri di depan cermin kecil, tak lupa wangi-wangian di pedarkan di busana. Suara kecil yang sedikit gaduh datang dari kelompok-kelompok kecil yang berjalan kearah yang sama, sambil bercengkerama ria menuju ruang kelas tempat pembelajaran kami selanjutnya. Pagi ini, selasa 24 Januari 2012 tepat ketika mentari mulai naik menyapa manusia dengan rengkuhan sinarnya, acara kami dibuka oleh Dirut SDM di ruangan halo pos 161. Tepuk tangan riuh riah menyemarakkan, secerah mentari yang mulai meninggi meninggalkan ufuk timur, namun kami dengan kepala tengadah masih menatap pandang lurus sempurna , bersunguh-sunguh,  menangkap setiap kata demi kata, kalimat-kalimat yang terlontar dari pembicara, yang tak putus-putusnya memberikan kami sanjungan, pujian, dan semangat agar menjadi insan pos yang akan memberikan perubahan ke depan.
Dua setengah bulan kami dijadwalkan mengikuti pembelajarah di kelas, di hari-hari… walau kadang kala ada rasa jenuh, kantuk, dan bosan menghujam otak sebelah kanan kami, kami senantiasa mensiasati dengan membuat kegaduhan. Tangan-tangan lihai mulai membuat bola-bola kertas kecil untuk dilemparkan ke teman-teman lain. Yang dilempar pun pula tidak mau ketinggalan, serangan balasan diluncurkan. Jungkat-jungkit kursi teman yang duduk didepan juga diperagakan, ketika kami mulai bosan dengan bola kertas lemparan. Itulah hari-hari kami, hari-hari yang penuh pembelajaran, karena kami ada untuk belajar di hari-hari…
Hari-hari kami sedikit tegang, malam-malam tertentu memaksa kami sedikit harus begadang. Memang pembelajaran tidak seharusnya dilakukan dalam semalam, namun demikian akan sedikit menjadi tertantang. Perjuangan untuk tidak menjadi peserta ujian ulangan, membuat mata tidak bisa terpejam. Kami belajar bersama, membuat pembahasan soal dan kasus yang mungkin masuk dalam pertanyaan ujian. Meskipun demikian, berdoa tak pernah kami tinggalkan, karena Tuhan lah yang menentukan.
Pagi-pagi sekali kami bangun dihari-hari ujian. Kadang kala terlintas di benak kalau posisi duduk juga mempunyai andil dalam menentukan masa depan. Meskipun ini aneh, kami tetap berbondong-bondong mencari posisi dudut dan belakang. Di dalam hati yang paling dalam, harapan untuk membuka diskusi dengan teman selalu membayang tatkala pengawas sedikit memberi peluang. Itulah kami, polah tingkah yang selalu memberi senyum, membuang gradasi material buruk melalui saringan persahabatan, dan kami cinta yang namanya sedimentasi keterbukaan, dan pengertian adalah katalisator kerinduan untuk saling bertemu lagi di masa-masa yang akan datang.                      


---Rafflesia,POK 2012---